Calon Arang di Desa Getakan Menggemparkan

  • 15 Oktober 2016
  • Dibaca: 367 Pengunjung
Calon Arang di Desa Getakan Menggemparkan

Pentas calonarang di Desa Adat Getakan, Banjarangkan, Klungkung, Kamis malam (13/10) hingga Jumat pagi (14/10) benar-benar gempar. Pasalnya, kali ini watangan yang diperankan oleh Dewa Aji Tapakan benar-benar dikubur di setra Getakan. 

Pementasan calonarang di Desa Adat Getakan, Banjarangkan Klungkung dimulai sekitar pukul 20.45, Kamis (13/10). Calonarang tersebut berjudul Ngeseng Waringin. Adapun sekaa penabuh yang mengiringi tarian khusus dari kalangan pemuda. Hadir dalam acara tersebut Wakil Gubernur Bali, Ketut Sudikerta, Bupati Klungkung,  Nyoman Suwirta, beserta wakil bupati.

Sebelum acara dimulai, panitia memberi arahan bahwa tidak diizinkan berdiri saat tarian berlangsung. Meskipun demikian, karena jumlah penonton banyak sedangkan tempat tidak memadai, penonton tetap nekat berdiri. Di samping itu, panitia juga melarang penonton untuk mendekat saat prosesi penguburan bangke matah (bangkai mentah), yakni orang hidup yang dianggap meninggal selama ritual berlangsung dengan beberapa prosesi khusus. “Tidak ada yang boleh mendekat, maksimal jarak 100 meter. Jangankan penonton, panitia dan keluarga yang bersangkutan pun dilarang mendekat,” tegasnya.

Setelah itu pementasan diawali dengan sasolahan barong sakral, yakni Ratu Gede. Guna memudahkan menyaksikan pementasan seni sakral tersebut, panitia telah menyediakan beberapa layar proyektor. Hanya saja banyak warga yang mengeluh karena tidak leluasa menonton. Bahkan saat tengah asyik menyaksikan tari Jauk,  proyektor tiba-tiba disconnect. Kontan saja masyarakat bersorak. Setelah ditunggu sekitar 15 menit,  proyektor kembali menyala. Sayangnya tarian telah selesai.

 

Meskipun demikian, penonton tetap antusias. I Wayan Suarmaja asal Payangan, Gianyar yang datang bersama AA Agung Ngurah Pratama asal Klungkung misalnya. Suarmaja dan Agung telah standby dari sore. Bahkan Suarmaaja telah berangkat dari Payangan pukul 16.00. “Saya penasaran dengan prosesi bangke matahnya,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut yang menjadi tokoh pamucuk adalah, Jro Mangku Dalem. Beliau juga dibantu sejumlah pamangku dari Desa Adat Getakan, Beneng,  Sari Merta, dan Gunung Rata. “Kalau sebelumnya banyak pangayah dari warga biasa, tapi sekarang diutamakan pamangku,” ujar warga di sela-sela prosesi.

Di samping itu, tidak seperti calonarang kebanyakan, sesi ngundang para leak juga tidak ada. Namun demikian, tidak mengurangi kesan magis yang ada.

Setelah masolah Dewa Aji Tapakan langsung menuju beringin di utara desa diiringi jro mangku dan warga. Setibanya di sana Jro Mangku langsung menghaturkan upakara dilanjutkan Dewa Aji melakukan persembahyangan. Salah seorang warga mengatakan bahwa dari Calonarang tahun lalu, Jro Tapakan langsung seperti orang pingsan setelah sembahyang. “Bahkan seperti mayat sungguhan, kaku, dan mengeluarkan bau,” ujar salah seorang warga yang kemarin memilih tidak ikut seperti tahun lalu.

Setelah itu sekitar pukul 23.30 Dewa Aji Tapakan  langsung dibawa kembali ke perempatan agung, tempat acara berlangsung dan diupacarai layaknya orang yang meninggal. Mulai dari dimandikan, kemudian diberikan ritual lanjut dibungkus menggunakan kain kasa, tikar pandan, hingga anyaman bambu serta diikat menggunakan tali bambu pula. Setelah itu baru dimasukkan ke dalam peti dan dibawa menuju ke kuburan dan dikubur. Beliau kemudian ditinggal sendiri tanpa boleh ditemani oleh siapa pun, termasuk sanak saudara.

Sekitar pukul 03.30 warga pun bersiap. Benar saja, tiba-tiba Ida Ratu Mas langsung tedun dan diiring ke setra atau kuburan. Beliau kemudian melakukan prosesi ngurip atau menghidupkan kembali watangan. Ajaibnya Dewa Aji kembali ke pempatan agung dengan segar, hanya menggunakan kemben dan udeng dari kain kasa. Bersama Ida Bhatara dan iringannya, kemudian diberikan ritual oleh Jro Mangku. Salah satunya adalah panyambleh berupa kucit (anak babi) yang kepalanya dipenggal menggunakan kapak khusus saat ritual berlangsung. Kegiatan pun berakhir pada pukul 04.36.

Pentas calonarang di Banjar Adat Getakan rutin dilakukan setiap tahunnya. Namun tahun ini lebih menggeparkan karena watangan atau layon dikubur hidup-hidup di setra atau kuburan banjar adat Getakan.

Jauh hari sebelum melakukan pentas, pihak Banjar Adat Getakan meminta pendapat dari aparat penegak hukum yakni kepolisian dan kejaksaan yang dikonsep dengan seminar atau paruman, tetapi saat itu, kepolisian menyebutkan tidak bisa berpendapat mengizinkan atau melarang karena pentas calonarang dengan bangke-bangkean itu wilayah adat.

Ahirnya solusinya dibuatkan surat pernyataan dari pihak keluarga diketahui perangkat desa dinas, desa adat dan kepolsian bahwa tidak akan menuntut jika nantinya terjadi sesuatu pada watangan yang dikubur. Pihak keluarga merelakan karena Dewa Aji Tapakan menjadi watangan ngayah. 

  • 15 Oktober 2016
  • Dibaca: 367 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita