Sejarah Desa

  • Dibaca: 1429 Pengunjung

desa getakan berdiri sejak 1856

A.    Sejarah Desa Getakan

1.      I Dewa Ketut Kaler meninggalkan Taman Bali.

      Pada sekitar abad ke 17 ada sebuah kerajaan di Taman Bali yang di perintah oleh seorang raja yang bernama I Dewa Gede Ngurah Den Bencingah.Beliau memiliki putra yang sangat banyak, di anataranya salah satu putra beliau yang bernama I Dewa Ketut Kaler.Sekitar abad itu juga I Dewa Ketut Kaler di pindahkan oleh ayahnya dari Puri Taman Bali menuju

ke arah timur.Layaknya putra raja, maka atas kepergian beliau di iringi oleh abdinya sebanyak ± 200 orang termasuk laki-laki, perempuan , dan anak-anak, berangkatlah beliau ke arah timur untuk menuju suatu daerah yang di batasi oleh dua buah sungai besar.

      Setelah melintasi sungai yang pertama (Melangit), beliau akan melintasi sungai yang kedua yaitu sungai Bubuh, di dalam perjalanan beliau di hadang oleh banjir besar, sehingga terhalanglah perjalanan beliau, dan akhirnya beliau beserta istrinya dan segenap pengiring beristirahat di bawah pohon beringin sambil menunggu air sungai surut. Sampai saat ini tempat beliau beristirahat dinamai dengan Kroyo karena beringin yang belum di upacarai sebagaimana mestinya di namakan dengan Kroyo.

      Pada saat itu menunjukan se ekor burung hinggap di dekat istri beliau sambil berbunyi tak henti-hentinya, menurut pirasat I Dewa Ketut Kaler di seberangsanalah beliau akan tinggal, di sebelah timur Tukad Bubuh, setelah air Tukad Bubuh menjadi surut, perjalanan beliau di lanjutkan , menyebranglah ke arah timur beserta istri dan pengiring-pengiringnnya. Setelah mereka berjalan beberapa lama, berhentilah mereka di suatu tempat sambil mengumpulkan barang-barang perlengkapan mereka, tempat mereka menaruh alat-alat sampai saat ini di namakan dengan “Bukit Grondong”.

2.      Lahirnya Banjar Kubu

      Untuk tempal tinggal mereka maka di bangunlah sejumlah gubuk-gubuk (kubu-kubu), sehingga daerah tersebut di namakan Banjar Kubu, walaupun sampai saat ini mereka berhasil memperbaiki tempat tinggal yang layak namun daerah tersebut masih tetap dinamakan Banjar Kubu.

3.      Terjadinya Banjar Gunungrata

      Di tempat pemukiman yang baru ini merekan berusaha untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan bercocok tanam, dengan membuka daerah sekitarnya sebagai pertanian.Disebelah utara tempat kediaman mereka, adalah sebuah tempat yang beketinggian, disinilah mereka menemukan daerah yang bertanah subur, yang sudah di tumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan dan buahnya bisa di makan oleh manusia.Sehingga tempat tersebut memungkinkan mereka untuk tetap hidup.Maka sehubungan dengan hal itu tempat tersebut dinamakan “Gunung Merta” artinya tempat ketinggian (Gunung) yang mendatangkan merta (sesuatu yang memenuhi kebutuhan sehari-hari).Akhirnya daerah tersebut di kerjakan secara bersam-sama untuk mendatangkan hasil yang lebih memadai.Tanah yang agak tinggi di bongkar, tanah yang lebih rendah di timbun dengan tanah supaya menjadi areal perladangan yang rata agar mudah dalam pengerjaannya, sehingga sampai sekarang daerah tersebut di namakan “Gunung Rata”.

4.      Terjadinya Banjar Sari Merta

      Walaupun mereka sudah mendapatkan hasil sedemikian itu, akan tetapi mereka berusaha juga untuk menghasilkan makanan yang utama yaitu padi. Diusahakanlah tanah di sebelah selatan Gunungrata tersebut untuk di tanami padi.Karena padi merupan inti sari dari makanan pokok.Sehingga sampai saat ini daerah tersebut di namakan “Banjar Sarimerta” artinya karena dapat memberikan hasil yang lebih utama dan bermanfaat untuk kelangsungan hidupnya.

      Pada suatu ketika anak pohon kroyo dimana tempat peristirahatan beiliau dahulu di ambil dan di pindahkan lalu di tanam ketempat dekat pemukiman  beliau. Kemudian di upacarai oleh karena itu di beri nama pohon Beringin. Di tempat pohon Beringin itu di buat tempat pemandian untuk beliau sampai sekarang masih di gunakan, yang di namakan pesiraman .

5.      Lahirnya Desa Getakan

      Dalam upaya penyebaran penduduk dan memperkuat wilayah pertahanan, maka beliau bersama dengan sebagian pengiringnya membuat pemukiman dan membangun  1 km lebih keselatan dari pemukiman beliau semula.

      Sebagaimana telah di jelaskan , bahwa saat beliau pindah dari Taman Bali menuju daerah timur dan diiringi oleh rakyat yang setia kepada beliau, maka menurut bahasa bali kuno “Diiringi maka sama dengan Getakan” sehingga sampai sekarang tempat beliau memerintah sebagai raja kecil dinamakan Desa Getakan.

6.      Terjadinya Banjar Beneng.

      Untuk lebih memperjelas luas wilayah Beliau sebagai penguasa, memerintahkan kepada pengiring-pengiringnya untuk mengadakan pengukuran dengan alat pengukur jaman dulu yang dinamakan dengan”PEGANJING”.

      Pengukuran di adakan agar lurus keselatan diantara 2 (dua) sungai (tukad) yaitu Tukad Bubuh dan Tukad Linggah, karena di sebelah timur Tukad Linggah adalah wilayah kekuasaan raja Klungkung sedangkan di sebelah barat sungai (Tukad Bubuh) adalah menjadi kekuasaan Dewa Agung Panji sebagai penguasa baru di daerah kerajaan Nyalian.

      Sejauh 1(satu) km lurus ke selatan dari Getakan di perintahkan untuk di jadikan tempat pemukiman dan tidak boleh di jadikan tempat pertanian (di jadikan tanah neng). Lurus dalam Bahasa Bali Kuno “Amener” sama dengan Beneng, sehingga sampai sekarang tempat tersebut di jadikan tempat pemukiman dengan nama “Banjar Beneng”.

7.        Terjadinya Banjar Anjingan

      Pengukuran dengan alat pereganjing di teruskan ke selatan ± 3 km, tempat ini di pakai untuk daerah pemukiman yang paling selatan. Setelah beberapa lama petugas melakukan pengukuran, kembalilah mereka ke Getakan, ternyata sampai di Getakan baru di ketahui bahwa alat pengukur yang dinamakan Pareganting ketinggalan, sehingga dari sebab itulah daerah tersebut dinamakan “Anjingan” yang berasal dari kata : Para-Ganjing.

      Demikianlah dapat kita katakana bahwa banjar Gunungrata, Getakan , Beneng dan Anjingan adalah sampai sekarang merupakan bagian dari wilayah desa Getakan yang panjangnya dari utara ke selatan ± 5 km.

 

8.      I Dewa Ketut Kaler merencanakan membuat Desa Adat.

      Prajuru-prajuru mulai di adakan tempat-tempat ibadah sangat di utamakan sebagai Puseh Dalem dan Balai Agung adalah yang merupakan Khayangan Tiga yang berarti Desa Getakan pada saat itu adalah menjadi satu Desa Adat.

      Pada tahun 1975 dengan adanya perkembangan jaman terjadilah pemekaran sehingga Desa Adat menjadi 2 (dua) yaitu :

1.      Desa Adat Getakan dan

2.      Desa Adat Anjingan.

Desa Adat Getakan terdiri dari 3 (tiga) banjar adat yaitu :

1.      Banjar Adat Gunungrata

2.      Banjar Adat Getakan

3.      Banjar Adat Beneng

      Sedangkan banajr adat Anjingan adalah berdiri sendiri yaitu Banjar atau Desa adat Anjingan. Walaupun Desa Getakan menjadi 2 (dua) desa adat namun  sampai sekarang masih tetap menjadi satu desa administrasi.

  • Dibaca: 1429 Pengunjung